
GARDAATLETIK. Dunia olahraga internasional kembali diwarnai kabar mengejutkan sekaligus menginspirasi. Taiwan resmi menunjuk Lee Yang, atlet bulu tangkis yang pernah mengukir sejarah dengan dua medali emas Olimpiade, sebagai Menteri Olahraga. Langkah ini tidak hanya menandai babak baru dalam karier sang atlet, tetapi juga membuka diskusi lebih luas: mungkinkah Indonesia melakukan hal serupa, menjadikan mantan atlet sebagai pengambil kebijakan di level tertinggi?
Dari Lapangan Bulu Tangkis ke Kursi Menteri
Lee Yang bukanlah nama asing di dunia bulu tangkis. Bersama pasangannya, Wang Chi-lin, ia berhasil merebut emas di nomor ganda putra Olimpiade Tokyo 2020. Prestasi itu berlanjut empat tahun kemudian ketika mereka kembali meraih emas di Olimpiade Paris 2024. Dua kemenangan berturut-turut tersebut menempatkan nama Lee dalam daftar atlet legendaris Taiwan.
Setelah memutuskan gantung raket, Lee Yang memilih jalan baru yang tidak kalah menantang: dunia pemerintahan. Pada 9 September 2025, ia resmi dilantik sebagai Menteri Olahraga Taiwan. Menariknya, pengangkatan ini bertepatan dengan lahirnya Kementerian Olahraga Taiwan, sebuah lembaga baru yang berdiri sendiri setelah sebelumnya urusan olahraga berada di bawah kementerian lain. Dengan posisi barunya, Lee Yang tercatat sebagai salah satu menteri termuda dalam sejarah Taiwan.
Misi dan Tanggung Jawab Baru
Sebagai menteri pertama di kementerian yang masih segar, tugas Lee Yang tidaklah ringan. Ada empat fokus besar yang menjadi prioritas utamanya:
- Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam olahraga
Pemerintah Taiwan ingin menjadikan olahraga sebagai gaya hidup, bukan sekadar aktivitas kompetitif. Dari sekolah dasar hingga komunitas, olahraga didorong sebagai kegiatan sehari-hari. - Mengembangkan pusat pelatihan dan fasilitas atlet
Dengan pengalaman pribadi sebagai atlet profesional, Lee tahu betul pentingnya sarana latihan berkualitas. Ia dituntut untuk memperkuat infrastruktur yang bisa menunjang regenerasi atlet Taiwan. - Memajukan industri olahraga
Olahraga kini tidak hanya dilihat sebagai prestasi, tetapi juga sektor ekonomi. Taiwan menaruh harapan pada industri olahraga untuk menciptakan lapangan kerja, menggerakkan pariwisata, dan meningkatkan citra negara di mata dunia. - Menempa bakat sejak dini
Regenerasi menjadi salah satu poin penting. Lee Yang diharapkan mampu menciptakan ekosistem pembinaan atlet muda agar Taiwan tidak kekurangan bintang olahraga di masa depan.
Dengan latar belakangnya, banyak pihak optimistis Lee mampu menjembatani kebutuhan atlet dengan kebijakan pemerintah. Ia dianggap sebagai sosok yang bisa berbicara dari pengalaman nyata, bukan sekadar teori di atas kertas.
Dampak Positif bagi Taiwan
Pengangkatan Lee Yang membawa angin segar bagi dunia olahraga Taiwan. Pertama, hal ini menjadi bukti bahwa pemerintah berani memberi ruang bagi atlet untuk berkontribusi lebih besar setelah pensiun. Bukan hanya sekadar menjadi pelatih atau pengurus federasi, tetapi langsung masuk ke ranah kebijakan.
Kedua, kehadiran Lee Yang di kursi menteri menciptakan simbol harapan. Generasi muda bisa melihat bahwa prestasi di lapangan bisa membuka jalan menuju posisi strategis di pemerintahan. Hal ini memberi motivasi tambahan, bahwa olahraga bukan hanya soal medali, melainkan juga tentang membangun masa depan.
Ketiga, publik menaruh ekspektasi tinggi bahwa kebijakan olahraga akan lebih berpihak pada atlet. Karena pernah berada di posisi yang sama, Lee diyakini mampu memahami masalah seperti kesejahteraan, beban latihan, kebutuhan fasilitas, hingga transisi karier atlet setelah pensiun.
Bagaimana dengan Indonesia?
Kabar dari Taiwan tentu membuat banyak orang di Indonesia bertanya-tanya: mungkinkah langkah serupa diterapkan di tanah air?
Sejauh ini, Indonesia memang belum pernah menunjuk mantan atlet sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora). Jabatan tersebut umumnya diisi oleh politisi atau tokoh birokrasi. Ada beberapa mantan atlet yang pernah terjun ke dunia politik, seperti Taufik Hidayat, namun ia hanya sempat menduduki posisi Wakil Ketua Komisi X DPR RI, bukan kursi Menpora.
Padahal, jika menilik prestasi olahraga Indonesia yang gemilang, terutama di cabang bulu tangkis, angkat besi, dan atletik, banyak sosok atlet yang sebenarnya punya kapasitas untuk memahami kebutuhan olahraga secara mendalam.
Potensi Keuntungan jika Indonesia Ikut Melangkah
Jika Indonesia suatu saat memberi ruang kepada mantan atlet untuk menjabat Menpora, ada sejumlah keuntungan yang bisa dirasakan:
- Kebijakan lebih realistis
Mantan atlet tahu persis bagaimana kehidupan olahraga dijalani, dari latihan, kompetisi, hingga masa pensiun. Pengalaman ini bisa melahirkan kebijakan yang lebih tepat sasaran. - Menutup jarak antara atlet dan pemerintah
Selama ini, sering muncul keluhan soal gap antara kebutuhan atlet dengan perhatian pemerintah. Kehadiran mantan atlet di kursi menteri bisa memperkecil jurang tersebut. - Inspirasi bagi generasi muda
Sama seperti di Taiwan, atlet muda Indonesia akan melihat bahwa olahraga bukan hanya soal medali. Ada kesempatan untuk mengabdi lebih luas pada bangsa melalui jalur kebijakan.
Tantangan yang Perlu Dihadapi
Meski terlihat menjanjikan, wacana ini tidak lepas dari tantangan. Pertama, menjadi menteri tidak hanya membutuhkan pengalaman olahraga, tetapi juga kemampuan manajerial, politik, dan diplomasi. Mantan atlet yang ingin menempati posisi tersebut harus dibekali pendidikan serta pengalaman birokrasi.
Kedua, kultur politik Indonesia masih sangat kental dengan sistem partai. Artinya, untuk bisa menjadi menteri, seorang mantan atlet harus punya dukungan politik yang kuat. Hal ini bisa menjadi hambatan tersendiri.
Kesimpulan
Pengangkatan Lee Yang sebagai Menteri Olahraga Taiwan adalah momentum bersejarah. Dari seorang atlet peraih emas Olimpiade, ia kini dipercaya memimpin kebijakan olahraga di level nasional. Keputusan ini menunjukkan bahwa prestasi tidak berhenti di podium, melainkan bisa berlanjut menjadi kontribusi nyata di pemerintahan.
Indonesia bisa belajar dari langkah Taiwan. Dengan deretan atlet berprestasi yang kita miliki, sudah saatnya ada pemikiran lebih terbuka bahwa siapa pun yang memahami olahraga, termasuk mantan atlet, berhak mendapatkan kesempatan untuk duduk di kursi pengambil keputusan. Jika langkah ini diambil, bukan tidak mungkin wajah olahraga Indonesia akan berubah menjadi lebih progresif, inklusif, dan berpihak pada atlet.