
GARDAATLETIK. Musim MotoGP 2025 seolah menjadi panggung penebusan bagi Marc Marquez. Setelah melewati tahun-tahun yang berat akibat cedera dan performa yang tak stabil, kini sang Baby Alien hanya tinggal selangkah lagi menuju takhta tertinggi MotoGP dan kemungkinan itu bisa jadi kenyataan di Motegi, Jepang, pada Minggu, 28 September 2025.
Bersama Ducati, Marquez tampil seperti dirinya yang dulu, cepat, agresif, namun tetap penuh perhitungan. Saat banyak pihak memprediksi bahwa era dominasi Marquez telah usai, pria asal Cervera ini justru menjawab dengan statistik dan performa yang mencengangkan sepanjang musim.
Sprint Race Jadi Penentu Atmosfer
Pada balapan sprint di Motegi yang digelar Sabtu (27/9), Marquez finis di posisi kedua. Meski bukan yang terdepan, hasil ini memiliki dampak besar terhadap klasemen. Tambahan poin sprint membuat total poin Marquez saat ini mencapai 521 poin, unggul 191 poin dari pesaing terdekat yang tak lain adalah adik kandungnya sendiri, Alex Marquez.
Yang menarik, kemenangan sprint justru diraih oleh Francesco Bagnaia, namun ia tak lagi jadi ancaman serius dalam perebutan gelar. Sementara Alex hanya berhasil meraih posisi yang tidak cukup signifikan untuk memperkecil jarak poin dengan sang kakak.
Skenario Menangkan Gelar Matematika Juara
Agar Marc Marquez mengunci gelar juara dunia MotoGP 2025 di Motegi, skenarionya sebenarnya cukup sederhana. Ia hanya perlu memastikan bahwa Alex tidak mencetak tujuh poin lebih banyak darinya dalam balapan utama. Dengan kata lain, jika Marquez berhasil finis di posisi dua atau tiga dan Alex tidak memenangkan balapan, maka gelar dunia sudah bisa dibawa pulang.
Hal ini menjadikan Motegi sebagai titik krusial. Start dari posisi ketiga memberi keuntungan awal bagi Marc, sementara Alex harus berjuang dari grid kedelapan, posisi yang tidak ideal untuk mengejar ambisi juara.
Marquez Fokus, Tenang, dan Realistis
Dalam wawancara usai sprint race, Marc mengakui bahwa balapan berjalan cukup menantang. Ia harus berhadapan dengan lawan-lawan tangguh yang sangat kuat dalam pengereman, yang membuatnya kesulitan melakukan overtaking secara optimal. Meski sempat kehilangan waktu, ia menganggap hasil sprint sudah cukup baik untuk menjaga peluang juara.
“Target saya besok bukan hanya kemenangan, tapi menjaga posisi dan membaca situasi di lap-lap awal. Kalau bisa menyegel gelar, tentu itu akan jadi momen spesial di Jepang,” ujar Marquez.
Komentar ini mencerminkan pendekatan matang dari seorang juara sejati. Bukan sekadar mengejar kemenangan balapan, namun memikirkan strategi keseluruhan demi mengamankan gelar dunia secepat mungkin.
Drama Keluarga di Puncak Klasemen
Persaingan antara Marc dan Alex Marquez menambah lapisan emosional dalam cerita musim ini. Dua kakak-beradik bersaing ketat di puncak klasemen dunia adalah fenomena langka dalam sejarah MotoGP. Namun keduanya tetap menjaga profesionalisme dan etika balap di lintasan.
Alex sendiri mengakui bahwa meski status mereka sebagai keluarga, persaingan tetap terbuka dan sehat. Ia bahkan menyatakan bahwa bisa bersaing dengan kakaknya di level tertinggi adalah sesuatu yang membanggakan.
“Kami saling menghormati di lintasan, tapi saya juga ingin menang. Itu tidak akan berubah hanya karena kami saudara,” ucap Alex dalam sebuah wawancara sebelum race.
Marc dan Ducati Kombinasi yang Kini Terbukti
Bergabungnya Marc Marquez dengan Ducati awalnya dipandang sebagai langkah penuh risiko. Banyak yang skeptis apakah gaya balap agresif Marquez cocok dengan karakteristik motor Desmosedici yang dikenal “liar” dan sulit dikendalikan.
Namun musim ini menjawab semua keraguan itu. Adaptasi cepat, konsistensi luar biasa, dan pengalaman segudang menjadikan Marquez sebagai pebalap paling komplet musim ini. Jika berhasil meraih gelar, ini akan menjadi gelar dunia ke-9 bagi Marc, sekaligus yang pertama bersama Ducati.
Langkah ini juga akan menandai sejarah baru: Marc menjadi pebalap yang mampu menjadi juara dunia dengan dua pabrikan berbeda (Honda dan Ducati) sebuah prestasi langka.
Motegi Sirkuit yang Penuh Makna
Sirkuit Twin Ring Motegi bukan hanya sekadar tempat balapan, tapi memiliki nilai sentimental tersendiri. Jepang adalah rumah bagi Honda, tim yang dulu membesarkan nama Marc. Kemenangan di Motegi, bersama Ducati, akan menjadi simbol dari transisi sempurna dari legenda Honda menjadi ikon Ducati.
Atmosfer di Motegi akhir pekan ini pun dipastikan akan sangat panas. Para penggemar MotoGP, baik yang menyaksikan langsung di tribun maupun dari layar kaca, tentu tak ingin melewatkan momen bersejarah ini.
Akankah Sejarah Ditulis Ulang?
MotoGP 2025 telah menjadi musim luar biasa bagi Marc Marquez. Dari awal yang meragukan hingga kini berdiri di ambang juara, kisah comeback ini akan selalu diingat. Jika berhasil mengunci gelar di Motegi, Marquez tak hanya mengukuhkan dirinya sebagai legenda hidup MotoGP, tapi juga memberi pesan kuat bahwa semangat juang dan adaptasi adalah kunci dari kesuksesan sejati.
Kini, tinggal satu balapan lagi. Satu peluang emas. Satu lintasan untuk menutup musim dengan mahkota juara. Dunia menanti, apakah Motegi akan jadi saksi kembalinya sang Raja.