
Dalam dunia bulu tangkis, setiap gelar memiliki arti. Namun, tidak semua gelar tercipta dari kisah yang biasa. Bagi Dejan Ferdinansyah, kemenangannya baru-baru ini terasa lebih dari sekadar trofi itu adalah simbol dari perjuangan panjang, penyesuaian, dan pembuktian diri.
Ya, akhirnya, Dejan meraih gelar perdananya sejak resmi bergabung dengan Pelatnas PBSI, dan itu membawa angin segar tak hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk sektor ganda campuran Indonesia.
Dari Independen ke Pelatnas, Langkah Besar Penuh Tantangan
Sebelum berada di bawah naungan PBSI, Dejan sudah dikenal sebagai pemain profesional independen. Bersama partnernya, Gloria Emanuelle Widjaja, mereka sempat tampil mengesankan meski berstatus sebagai “bebas kontrak” atau non-pelatnas. Saat itu, mereka bergerak dengan dukungan sponsor dan manajemen profesional sendiri, namun tidak secara langsung berada dalam sistem latihan nasional.
Namun, pada awal 2024, sebuah keputusan besar diambil: Dejan dan Gloria resmi bergabung dengan pelatnas. Langkah ini bukan hanya soal fasilitas, tetapi juga tentang komitmen untuk bermain di level yang lebih tinggi, di bawah sistem nasional yang ketat.
Dan di balik semua itu, Dejan menyadari bahwa proses adaptasi bukanlah hal yang instan. Dari rutinitas latihan yang lebih padat hingga harapan tinggi dari PBSI, semuanya menjadi beban sekaligus motivasi baru.
Gelar yang Lebih dari Sekadar Prestasi
Setelah berbulan-bulan berlatih dan bersaing, akhirnya momen manis itu datang, Dejan dan Gloria sukses menaklukkan lawan-lawan kuat dan meraih gelar juara dalam turnamen internasional yang mereka ikuti.
Bagi Dejan, kemenangan ini adalah penanda emosional, karena akhirnya ia bisa mempersembahkan hasil nyata setelah resmi menjadi bagian dari pelatnas. Dalam wawancara pasca pertandingan, ia mengungkapkan perasaan lega sekaligus bangga.
“Bersyukur banget akhirnya bisa kasih hasil. Ini bukan hanya kemenangan, tapi bukti bahwa proses kami mulai membuahkan hasil,” katanya dengan penuh emosi.
Kerja Sama yang Terus Diperkuat
Meskipun sudah berpasangan cukup lama, dinamika latihan di pelatnas membawa warna baru dalam hubungan kerja sama antara Dejan dan Gloria. Dengan arahan pelatih dan staf teknis PBSI, mereka mulai mengevaluasi pola permainan, memperbaiki detail kecil, hingga merancang strategi lebih efisien untuk menghadapi lawan-lawan kelas dunia.
“Latihan di pelatnas memang beda. Kami jadi lebih fokus, lebih disiplin. Itu bikin komunikasi kami di lapangan juga lebih nyambung,” ungkap Gloria dalam wawancara terpisah.
Chemistry keduanya yang semakin matang terlihat jelas dalam permainan mereka: lebih taktis, lebih tenang, dan lebih tajam di momen-momen krusial.
Jalan Panjang Menuju Puncak Dunia
Kemenangan ini tentu menjadi titik cerah, tapi juga pengingat bahwa perjalanan masih sangat panjang. Dalam arena ganda campuran dunia, kompetisi sangat ketat dengan dominasi dari pasangan-pasangan asal China, Jepang, dan Thailand.
Namun, dengan hasil ini, Dejan dan Gloria telah mengirim pesan, mereka siap bersaing. Apalagi, PBSI tengah melakukan regenerasi besar-besaran untuk sektor ganda, baik putra, putri, maupun campuran.
Jika performa mereka terus stabil dan meningkat, bukan tidak mungkin keduanya akan menjadi andalan Indonesia di ajang-ajang besar seperti Asian Games, Kejuaraan Dunia, hingga Olimpiade.
Dari Titik Nol ke Titik Nyala
Banyak yang berpikir bahwa bergabung ke pelatnas akan langsung membawa kesuksesan. Nyatanya, tidak sesederhana itu. Dejan bahkan sempat melalui fase tanpa gelar sejak awal tahun.
Namun, ketekunan dan keyakinannya untuk tetap fokus akhirnya membuahkan hasil. Ia memilih untuk tidak larut dalam tekanan, melainkan menjadikan setiap kegagalan sebagai pelajaran.
“Kalau ada yang bilang langsung enak begitu masuk pelatnas, saya nggak setuju. Semua butuh proses, dan hasil baru datang kalau kita sabar,” ujarnya.
Harapan Baru untuk Merah Putih
Dengan torehan gelar ini, Dejan dan Gloria kini masuk radar kuat sebagai wakil potensial Indonesia dalam berbagai kejuaraan internasional ke depan. Kehadiran mereka juga menjadi penyegar bagi sektor ganda campuran yang sempat kehilangan taji pasca pensiunnya pasangan legendaris seperti Tontowi Ahmad & Liliyana Natsir.
PBSI pun diyakini akan terus memberikan dukungan penuh, baik dalam bentuk program latihan, keikutsertaan dalam turnamen, hingga pembinaan mental.
Kemenangan Ini Baru Permulaan
Apa yang dicapai Dejan Ferdinansyah bukanlah puncak ini adalah awal dari perjuangan yang lebih besar. Gelar pertama ini ibarat pintu yang baru saja dibuka, dan di baliknya terbentang perjalanan panjang menuju panggung tertinggi dunia bulu tangkis.
Dengan kerja keras, kolaborasi solid bersama Gloria, dan dukungan dari pelatnas, Dejan telah membuktikan bahwa ia bukan hanya sekadar “talenta muda”, melainkan sosok yang siap membawa harapan baru untuk bulu tangkis Indonesia.